Jika tua nanti…

Standard

Suatu malam aku terdiam
Sesosok perempuan menatap tajam
Terduduk di lantai, ia mulai terpejam
Kemudian sadar ia, menekuri usia yang sudah kepala enam

Mata kami saling beradu dan bertanya
Mataku curiga, matanya bercerita
Menyisipkan perih buatku terjaga

Apa ia ditipu?
Apa ia tak punya anak cucu?
Apa tak ada tempat mengadu?

Ia tertidur di bawah rembulan
Rumah mungkin hanya impian
Keturunan cuma bualan
Yang nyata ia kedinginan
Kau bisa menyebutnya gelandangan

Teringat pesan bapak ibuku
Di dunia banyak yang palsu
Beragam pilihan tapi jawaban cuma satu
Jangan kecewakan siapapun, apalagi dirimu

Jika aku tua nanti…
Tak mau ku jadi si ibu sendiri
Habiskan malam dalam sepi
Sesali sisa jalan yang harus dilalui

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s