Review Film “CRASH” : Menyoroti Rasisme di Negeri Paman Sam

Standard

“Bagi kita, Teis dan ateis bisa berkumpul. Muslim dan Kristiani bisa bercanda. Artis dan atlit bisa bergurau. Kafirin dan mutaqqin bisa bermesraan. Tapi, pluralis dan anti-pluralis tak bisa bertemu. “

 (Ahmad Wahib)

 http://www.youtube.com/watch?v=oqZKaH0bvyE

Menggunakan media audio visual sebagai salah satu alternatif dalam usaha menyebarluaskan sebuah ilmu, konsep atau fenomena yang terjadi di masyarakat makin marak seiring berkembangnya teknologi di era globalisasi ini. Media audio-visual seperti film yang merupakan media populer memainkan peran yang cukup signifikan dalam memotret sekaligus mengkritisi kehidupan dan interaksi manusia. Hal inilah yang terjadi pula pada film “Crash” yang berusaha menyoroti problematika etnisitas di negeri paman Sam. Sebuah film yang berhasil menyajikan sisi lain Amerika Serikat dan mendapatkan apresiasi tinggi oleh insan perfilman dengan menyabet piala Oscar.

Crash bercerita mengenai dinamika interaksi antar ras yang terjadi di negara Amerika Serikat. Sebagai sebuah daerah melting-pot berbagai kebudayaan, AS menjadi tempat bertemunya berbagai etnis dengan problematikanya sendiri. Walaupun AS secara konstitusi sudah tidak menjalankan politik apartheid namun dalam praktiknya masih terjadi rasisme dimana kelompok kulit putih menjadi lebih superior daripada ras yang lain. Padahal di AS kelompok ras maupun etnis lain  juga telah menjalankan peran sosial-politk yang setara, dalam film ini digambarkan bahwa ada pengacara, polisi berkulit hitam dan dokter yang keturunan Persia. Dalam kehidupan nyata pun peran kaum minoritas ini juga cukup signifikan seperti terwujud dalam sosok presiden kulit hitam.

Namun yang terjadi dalam film ini menjadi cukup menarik karena kurangnya pengetahuan dan stigma negatif akan kelompok ras atau etnis tertentu menjadi justifikasi sepihak kaum yang merasa superior ini. Hal ini terjadi ketika warga keturunan Persia menerima stigma negatif karena memiliki kesamaan fisik dengan orang Arab (Timur Tengah) yang notabene mendapat cap teroris pasca tragedi 9/11. Orang semacam ini menjadi korban dari ketidaktahuan dan kesalahpahaman akan keragaman etnis di dunia. Generalisasi semacam ini akan merugikan orang-orang keturunan sejenis yang kemudian mendapat warning sign, di-blacklist dan diskriminasi dengan dalih war on terror.

Efek kolonialisme yakni menciptakan kelas upper dan worker juga terlihat ketika orang non-kulit putih cenderung menjadi blue-collar worker. Internal colonialism atau upaya eksploitasi kaum mayoritas pada kaum minoritas juga terlihat dari kecenderungan kaum colored menjadi pekerja kasar dalam hal ini orang keturunan latin (Meksiko) menjadi tukang kunci dan pembantu. Mereka ini juga mendapat stigma negatif dari para pengguna jasa mereka lantaran latar belakang mereka ini.  Terciptanya kelas berdasarkan warna kulit ini makin mendiskreditkan pekerja non-white akibat kecurigaan terhadap kualitas kerja mereka. Kaum minoritas ini secara terstruktur makin minor dengan berbagai label miring terhadap mereka. Mereka ini juga rentan menjadi korban dalam upaya mendapatkan kepentingan politik tertentu, seperti yang terlihat dalam film ini manakala politisi berusaha untuk menarik massa dengan menggunakan foto kebersamaannya dengan orang non-white.

Tidak hanya itu, rivalitas antar ras/etnis ini juga bertahan lantaran sikap saling curiga terus ada. Baik orang white maupun colored mempunyai definisi sendiri akan sikap dan kekhasan dari kelompok tersebut dan itu cenderung negatif. Hal ini kemudian menyulut sikap masa bodoh ketika mereka harus berperilaku tidak manusiawi terhadap kelompok yang lain. Yang juga perlu dicermati adalah perilaku negatif dari satu oknum bisa menjadi penilaian general bagi kelompok tersebut. Dalam hal ini terlihat warga sipil berkulit putih menjadi korban pencurian mobil oleh orang negro dan warga sipil negro menjadi korban pelecehan seksual dan penembakan oleh polisi berkulit putih. Stigma kriminal kaum negro ini menjadi sebuah kekhasan yang kemudian menjadi pembenaran akan tindakan tidak manusiawi terhadap mereka. Bahkan diantara sesama kaum negro juga terjadi kecurigaan. Sementara itu kaum negro yang menjadi korban diskriminasi menganggap bahwa tidak ada penghargaan dari orang kulit putih. Padahal yang terjadi di tataran politik (dalam film ini terkait peran pengacara berkulit hitam) adalah upaya untuk mewujudkan kesetaraan yang sejati dan penegakan hak minoritas. Dalam problematika ini juga tersisip adanya fenomena human-trafficking yang dilakukan oleh orang etnis China. Sehingga dalam hal ini perlu pengawasan dan penanganan yang efektif agar baik korban maupun pelaku tidak mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari pihak berwenang.

Sehingga diperlukan dialog untuk menghilangkan kecurigaan dan meluruskan kesalahpahaman yang menjadi jurang pemisah antar ras ini. Diskriminasi rasial memang sulit untuk dihindari namun dengan membekali masyarakat akan pentingnya pluralisme. Selain itu mengakomodir potensi dan kebutuhan kaum minoritas dalam bidang sosial-politik akan membantu masyarakat untuk mengetahui suara esensial dari kelompok minoritas dan mengurangi tindakan kriminalitas sebagai upaya pemenuhan kebutuhan mereka. Pemberian pemahaman dan pengetahuan akan keragaman etnis dan ras yang ada juga akan menjadi solusi atas perilaku justifikasi sepihak terhadap kaum minoritas ini. Namun yang paling penting adalah adanya sikap dan niat di level individual untuk membuka diri terhadap perbedaan sehingga muncul sikap saling menghormati. Dengan hal ini etnosentrisme akan terkikis ketika setiap orang menyadari hakikat diri sebagai manusia yang sama dan terwujudlah pluralisme yang benar-benar memanusiakan manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s