Tentang Kopi

Standard

Aku sempat mengenalmu, dari pertemuan yang tidak pernah kita tahu.

Kita mereguk ilmu baru lewat sekilas perkenalan yang sederhana. Tiba-tiba saja kita berkisah di bawah sinar rembulan, membicarakan yang hidup dan yang sempat hidup. Kau menawariku secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh yang cukup lama berhadapan dengan angin malam. Kau membawa ketel kecil, bagai labu yang berubah jadi kereta kencana Upik Abu, berisi kopi yang istimewa. Kopi yang telah mengalami perjalanan panjang, terjatuh dari induknya, dipungut dan mengalami petualangan dalam pencernaan hewan yang kita sebut luwak. Yah, kopi luwak yang sangat tangguh itu akhirnya menemani malam ketika kita bercerita mengenai Bhagawatgita. Kemudian kau pergi lantaran lelah dan meninggalkanku bersama secangkir kopi luwak yang mulai mendingin.

Hari-hari berikutnya kita bertemu, kita berbagi tempat untuk membuat sejarah kita sendiri. Aku mulai mengenalmu, begitupun dirimu, melalui percakapan yang membuatku heran, mengapa kita harus bertemu?

Kemudian kita sempat berbagi rencana tentang masa depan. Tentang harapan-harapan yang indah yang sebenarnya tidak pernah kita yakin akan kita wujudkan. Kita begitu bahagia saat menghabiskan waktu bersama, melewati reruntuhan penuh sejarah dan berharap dapat membuat sejarah. Hingga akhirnya, kita harus kembali pada kehidupan kita masing-masing.

Aku sempat mengenalmu, lewat pesan-pesan yang kau kirimkan dan tidak pernah aku lupakan.

Nampaknya aku memang tidak bisa mempertahankan cerita yang pernah kita lontarkan. Aku mengingkari janjiku dan berusaha keras untuk membiarkanmu hidup di jalanmu, sebelum kita pernah berjumpa. Pasti kau bertanya, di mana letak ingatanku, hatiku, dan perasaanku, yang ucapku selalu meletakkanmu di salah satu sudut hatiku. Kuyakin kau akan mempertanyakan ketulusanku hingga akhir mulai membuangku dari hidupmu.

Aku tidak pernah berusaha melupakanmu, walaupun itu mungkin akan lebih baik untuk kita. Yang kulakukan hanya kembali pada realita bahwa kita tidak akan bisa mewujudkan angan kita. Lebih baik kita hidup pada jalan kita masing-masing, demi kebaikan kita, demi masa depan kita. Maaf aku harus egois dan tidak setegar kopi yang sempat kita cecap. Karena pada akhirnya, aku tidak sanggup hanya menikmati ampas kopi yang harus kita sisakan.

Tentang kopi, awal kita bertemu dan mengenal bahwa hidup kita sekeras perjalanan kopi itu. Kita sempat terjatuh dari kehidupan awal kita kemudian mengalami perjalanan dalam proses pencernaan yang kita sebut cinta. Namun maaf aku tidak setegar itu, aku hanya kembali menjadi butir baru dan tidak bertransformasi dalam bentuk yang lebih berguna. Inilah kesempatanmu untuk berkembang, sesuai jalan yang telah kau pilih.

Aku sempat mengenalmu, mendengar suaramu, memanggilku… pabu.

Selamat ulang tahun🙂

My theory: saya belum sanggup berubah, biarkan saya menjadi kopi dengan jalan saya sendiri.

3 responses »

  1. Aku masih yakin tentang sebuah pepatah, entah dari asalnya “Cinta tak pernah salah, yang salah adalah saat (waktu) kita mencinta”….. Saat kita sadar bahwa kopi luwak sudah tidak ada lagi bersama kita, kita bisa membuat kopi yang lain, tidak harus kopi luwak, misalnya kopi klothok cap sego macan atau joglo manis …

  2. Ahaa, its fastidious dialogue concerning this article at this place
    at this web site, I have read all that, so now me also commenting at this place.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s