Media Internasional dan Pengaruhnya dalam Hubungan Internasional

Standard

*my theory: Ini merupakan tugas mata kuliah Pengantar Hubungan Internasional yang saya kerjakan dalam rangka UAS (19 Januari 2011). semoga membantu, please no copas, kritik saran sangat ditunggu*

Mengapa media internasional berpengaruh?

Menurut saya, media internasional merupakan alat yang bisa dengan mudah masuk ke sebuah negara dengan cara yang halus dan kadang tidak disadari membawa kepentingan-kepentingan yang bisa mengancam eksistensi sebuah negara atau aktor-aktor lainnya. Media internasional ini juga bisa menjadi alat yang membantu negara untuk memperluas isu-isu yang ingin diangkatnya. Tetapi, media ini tetap memiliki otoritas untuk berpihak kepada siapa. Dewasa ini, media tampak lebih bertendensi pada masyarakat, hal ini yang juga menjadi kekuatan dari media internasional untuk mempengaruhi masyarakat karena dianggap lebih menyuarakan kepentingan rakyat. Namun tidak dapat dipungkiri juga , media sangat terpengaruh dengan kepentingan dan kondisi di mana mereka bernaung. Contohnya: media Al-Jazeera lebih condong pada pemberitaan positif mengenai Irak sedangkan CNN lebih pro Amerika Serikat. Hal ini yang disebut dengan media menjadi kekuatan propaganda sebuah negara.

Media juga mempunyai kemampuan untuk menjadi investigator akan sebuah isu. Media akan melihat dari sisi pemerintah atau pihak berwenang dan dari sisi masyarakat awam. Hasil investigasi ini yang akan menjadi sumber informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, termasuk orang yang sangat mempercayai hasil survei dan statistik media. Selain itu, media internasional secara efektif menjadi mediator antar negara dalam menanggapi isu tertentu. Peran media sangat penting ketika media menjadi wadah untuk menyalurkan pendapat dari satu pihak kemudian ditanggapi lagi, jadi media menjadi semacam umpan balik bagi pihak-pihak terkait.

Mengingat bahwa kebutuhan akan informasi tercantum dalam HAM (right to access), maka setiap manusia akan berusaha mendapatkan informasi dalam bentuk apapun dan media internasional adalah alat bantu paling mudah yang bisa memenuhi kebutuhan informasi terutama terkait isu-isu internasional. Hal ini juga yang membuat media mempunyai kemampuan untuk membangun opini publik yang  mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap sebuah isu yang diangkat. Penilaian ini juga berkaitan dengan kondisi aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Sehingga kehadiran media ini bisa digunakan untuk publisitas aktor atau juga pembunuhan citra aktor. Hal ini menjadi semakin penting karena kemajuan teknologi makin membuat media gencar melakukan pemberitaan terkait isu-isu tersebut. Bagi masyarakat awam dengan kemampuan filter berita dan tingkat pemahaman rendah, apa yang disajikan bisa merupakan fakta dan dengan mudah mereka menjadi “korban media”.

Fenomena “korban media” ini juga masuk ke ranah budaya yang ditawarkan media internasional. Hal ini bisa dilihat dengan pemberitaan oleh media bisa menjadi budaya populer yang akan menjangkiti siapapun yang mengetahui pemberitaan tersebut. Adanya kemungkinan akan degradasi budaya muncul ketika masyarakat terpukau dengan “produk-produk” yang disajikan media. Masalah dunia mode dan fashion yang sangat terpengaruh oleh koleksi ala luar negeri akan mengancam eksistensi produk dalam negeri. Hal ini juga akan melahirkan kecenderungan munculnya pemikiran, kebiasaan dan sikap baru dalam menangggapi suatu hal, contohnya: budaya konsumtif, ideologi tertentu seperti liberal juga akan lebih tersosialisasi. Meskipun demikian kekuatan media ini juga sangat potensial untuk menyebarluaskan semangat dan pemikiran positif yang juga mendidik masyarakat. Hal ini memang berkaitan dengan kajian globalisasi dan kemampuan semacam inilah yang tidak dapat dioptimalkan aktor negara tanpa media.

Secara tidak langsung, hal tersebut akan mempengaruhi pembuatan kebijakan sebuah negara. Dalam proses pembuatan sebuah kebijakanpun, negara membutuhkan adanya informasi-informasi dan sumber yang paling mudah dan beragam adalah media internasional. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan negara pada media internasional. Bahkan ada anggapan bahwa sebuah negara tidak dapat hidup tanpa media sedangkan media bisa hidup tanpa negara.

Kekuatan media internasional ini juga berkesinambungan dengan kekuatan negara yang ada di belakangnya, jadi negara dan media memiliki hubungan kerjasama yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Media juga bisa menjadi sarana kampanye, seperti yang dilakukan George W. Bush melalui televisi Fox News pada tahun 2004. Negara akan dapat mensosialisasikan pemikiran dan kebijakan terkait melalui media. Media yang mempunyai akses lebih dekat dengan masyarakat akan lebih mudah mengabarkan hal-hal yang ingin dicapai oleh negara dengan cara yang lebih komunikatif dan lebih dipahami rakyat. Tapi hal ini harus diwaspadai benar oleh negara karena media mempunyai akses ke publik untuk melaporkan segala yang dilakukan negara dengan berbagai sudut pandang. Keberagaman sudut pandang ini yang bisa menimbulkan kerancuan dan kebingungan akan fakta kinerja negara berbanding dengan apa yang dilihat oleh media.

Selain itu, media internasional ini kuat dalam sisi solidaritas pers. Solidaritas pers ini bersifat universal sehingga memudahkan pertukaran berita dari berbagai pihak. Pertukaran berita ini bisa memperkaya suplai berita akan suatu isu oleh media tertentu dan pertukaran ini terjadi dalam lingkup transnasional. Media di tiap negara dapat mengakses berita dari media di negara lain dengan biaya yang relatif kecil terkait solidaritas pers tadi. Sehingga mediapun dapat berkembang dan beraktifitas meskipun dalam kondisi finansial yang kurang. Terlebih kemajuan teknologi akan mempermudah kinerja mereka sebagai agen sosialisasi. Adanya jejaring sosial yang berhegemoni, seperti facebook, twitter, menjadi bukti akan hal ini. Solidaritas ini secara tidak langsung juga menguatkan kerjasama dan komunikasi antar negara.

Kemampuan media untuk membangun opini publik mempertegas fakta bahwa media membawa pengaruh yang besar bagi eksistensi sebuah negara. Adanya stigmasisasi sebagai akibat pemberitaanpun menjadi kekuatan media yang tidak boleh diabaikan. Kesan atau labelling masyarakat terhadap aktor-aktor yang terkait dalam isu yang disajikan media akan mengintimidasi pihak terkait.

Tidak dapat dipungkiri, media dapat menjatuhkan citra aktor tertentu hanya dengan sekali pemberitaan. Tapi hal ini juga yang menjadi kelemahan media yaitu dapat menimbulkan kerancuan dan rentan disalahgunakan pihak tertentu untuk kepentingan pribadinya. Sebuah berita kecil dapat dibesar-besarkan sedangkan hal yang sebenarnya penting bisa dianggap biasa saja. Pola selera pasar dan kepentingan sangat mempengaruhi pola kerja media yang semacam ini. Penggunaan media sebagai pengalihan isu juga menjadi hal negatif dari media. Pihak-pihak yang menungganggi media-media ini juga harus lebih diawasi agar kita lebih waspada akan pemberitaan yang ada dan tidak serta merta menjadi korban media yang menelan begitu saja apa yang disampaikan media.

Contoh studi kasus media internasional yang mempengaruhi kebijakan suatu negara:

Adanya “CNN Efect” yang menyebabkan Amerika Serikat membuat kebijakan untuk mengirimkan dan mengamankan bantuan kemanusiaan di Somalia terkait pemberitaan CNN akan kondisi masyarakat di Somalia pada 1992.

“CNN Efect” atau efek CNN (Cable News Network) merupakan salah satu teori dalam kajian hubungan internasional dan studi media yang menyatakan bahwa media (saluran berita 24 jam) sangat mempengaruhi kebijakan luar negeri  yang diambil oleh sebuah negara pada masa Perang Dingin dan dalam perkembangannya sekarang, efek CNN ini masih besar pengaruhnya. Munculnya teori ini membuktikan bahwa media internasional mempunyai kekuatan untuk memunculkan fenomena dan mempunyai pengaruh yang demikian besar bagi aktor-aktor yang terkait. Efek CNN ini memiliki beberapa dimensi terkait pengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri sebuah negara. Pertama CNN menjadi media komunikasi diplomatik yang menghasilkan adanya timbal balik dari pihak bersangkutan dan dalam waktu yang cepat pula. Kedua apa yang diberitakan di CNN ini masuk ke dalam agenda penetapan kebijakan luar negeri karena adanya pemberitaan yang memasukkan unsur kepentingan masyarakat umum di dalamnya. Hal ini pula yang menjadi pemacu munculnya kebijakan Amerika Serikat terkait kasus intervensi di Somalia.

Dalam kasus ini, CNN telah menyiarkan kondisi mengenaskan masyarakat Somalia akibat intervensi Amerika Serikat. Pemberitaan mengenai bencana kelaparan ini seolah memaksa pemerintah untuk berbuat lebih banyak ke Somalia. Hal ini berhasil didapatkan oleh CNN, mereka berhasil membangun opini publik dan masyarakat begitu bersimpati sehingga pemerintahpun bertindak. Pada Agustus 1992, Bush memerintahkan diadakannya sistem airlift (sistem pengangkutan barang bantuan melalui udara) ke Somalia. Pada akhir tahun, Bush memerintahkan 25.000 pasukan Amerika Serikat untuk mengamankan bantuan kemanusiaan di Somalia.

Hal ini membuktikan bahwa media internasional berhasil membangun opini publik yang sangat mempengaruhi kebijakan sebuah negara. Media juga menjadi awal dari solidaritas dan empati sosial warga dunia internasional yang bereaksi atas kasus yang melibatkan aktor negara di mana tanpa keterlibatan masyarakat umum, perbaikan akan lebih lama terjadi karena aktor negara memiliki hak prerogratif untuk tidak melakukan suatu hal tanpa pertimbangan matang. Fenomena CNN efect ini menunjukkan kekuatan media untuk mengontrol kebijakan negara dan mengingatkan negara untuk mempertanggungjawabkan hal yang sering diabaikan negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s